Khasanah Islam dan Panggung Kebangsaan Indonesia

  • 1
    Share

 “Wahai orang-orang yang beriman ingatlah nikmat Allah (yang diberikan) kepadamu ketika suatu kaum bermaksud hendak menyerangmu dengan tangannya, lalu Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah dan hanya kepada Allah-lah hendaknya orang iman itu bertawakal” (QS. Al-Maidah ayat 11)

Berawal dari firman Allah SWT. di atas mengisyaratkan bahwa peran agama Islam dalam kebangsaan Indonesia masih sangat vital. Agama berperan dalam berbagai dimensi dari sosial, ekonomi hingga politik Oleh karena itu, di Indonesia tidak ada pemisahan struktur agama dari negara, tetapi agama dan negara bukan menjadi lembaga yang menyatu. Meskipun bukan sebuah elemen yang menyatu, Islam dan kebangsaan memiliki fungsi yang saling menyolidkan guna membentuk fondasi bangsa yang berkarakter agamis-demokratis dan demokratis-agamis.

 

Ajaran agama Islam yang kaffah berpadu dengan kekayaan bangsa Indonesia yang beragam, sehingga melahirkan khasanah budaya dan wawasan yang agung. Adat masyarakat yang mengandung kearifan lokal perlu dilestarikan, selama hal itu tidak bertentangan dengan nilai universal agama. Misalnya, dalam sejarah Sunan Kalijaga telah berhasil mengajarkan nilai-nilai Islam bukan dalam konteks Arab, melainkan konteks Jawa. Media yang berupa pagelaran seni wayang kulit digunakan sebagai strategi pengenalan khasanah Islam di tanah Jawa. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa antara agama dengan budaya merupakan kesatuan yang saling menguatkan. Dimana agama yang mengalami proses akulturasi mempunyai efektivitas lebih tinggi dalam memengaruhi suatu masyarakat.

Pada masa penjajahan, agama Islam berkiprah dalam mengusir penjajah. Agama Islam mengandung nilai integrasi yang mengubah berbagai perbedaan pada individu menjadi kekuatan. Perjuangan untuk memperoleh “Kemerdekaan Indonesia” tidaklah muncul begitu saja. Namun, cucuran keringat, air mata, darah bahkan nyawa menjadi saksi dalam sejarah memperjuangkan kemerdekaan. Bangsa-bangsa penjajah yang bengis datang membawa bedil dan meriam dengan kebringasannya bagaikan harimau menerkam mangsanya menyuarakan semboyan glory (orientasi pada kejayaan), gold (orientasi pada kekayaan), dan gospel (orientasi pada gerakan kristenisasi).

Devide et Impera merupakan salah satu strategi penjajah yang berupa sistem politik untuk memecah belah masyarakat Indonesia sehingga sedikit demi sedikit strategi ini mampu menguasai tlatah Indonesia ini. Namun, bangsa Indonesia tidak tinggal diam melihat ibu pertiwi dijamahi dengan tidak hormat. Perjuangan bangsa Indonesia terutama umat muslim melawan penjajahan dimulai dari sektor kerajaan-kerajaan Islam kemudian dilanjutkan dengan pergerakan sosial yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, yaitu perlawanan rakyat terhadap kolonial sehingga muncul kesadaran bernegara dan berbangsa yang meredeka. Berkeyakinan, “bahwa dengan bersatu maka kemerdekaan dapat diraih”. Tidak memandang latar belakang suku, agama, ras, dan antarbudaya, sehingga lahirlah semboyan bangsa Indonesia “Bhineka Tunggal Ika”.

Beragam problema dan drama tragis dialami oleh masyarakat Indonesia selama masa penajajahan. Islam sebagai agama terbesar di Indonesia berusaha membangunkan jiwa-jiwa yang tertidur hingga tersadar dengan semangat Ruhul Islam yang di dalamnya memuat nilai-nilai; 1) Jihad fi Sabilillah (Perang di jalan Allah), 2) Perintah berperang dari Allah terhadap golongan yang dzalim. Hal ini sesuai dengan firman-Nya QS. Al-Hajj: 39. 3) Simbol Begrijpen (Simbol kalimat yang dapat menggerakkan dan membangkitkan jiwa semangat rakyat Indonesia, yaitu Takbir), 4) Hubbul Wathon Minal Iman (Cinta tanah air merupakan sebagian dari iman) (Dr. Douwwes Dekker dalam Aboebakar Atjeh, 1957: 729).

Dalam perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam, maka peranan agama Islam sekaligus umat muslim memiliki arti penting dan tidak dapat dihapuskan dari panggung sejarah Indonesia. Hakikatnya, peran utama agama Islam bukan sekadar mengajarkan keimanan kepada Allah SWT. Saat Islam turun, masyarakat Arab sebenarnya telah menganut agama nabi terdahulu (agama hanif) dan mengenal adanya Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, Islam datang menekankan nilai toleransi, egaliter, dan kemerdakaan guna menghapus diskriminasi serta rasialisme.

Di samping ajaran tauhid, Islam juga senantiasa menyampaikan gagasan-gagasan sosial, ekonomi, dan budaya. Agama Islam tidak murni hanya bersifat spiritual, tetapi justru bersifat moderat. Tercermin dari kitab sucinya yang mengajarkan kepedulian terhadap sesama, etiket ekonomi, dan kebebasan dalam memperjuangkan hak dan kewajiban sebagai hamba dan warga. Dalam konteks ini, Islam bukan sebagai demarkasi antara agama dengan bangsa, justru Islam mempunyai kapabilitas untuk menjembatani antara individu dengan publik. Tujuan bernegara dalam Islam sangat jelas, yakni menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tujuan ini telah tersurat dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945 dan sila Pancasila yang
kelima. Oleh karena itu, Islam dan kebangsaan merupakan instrumen guna memanifestasikan cita-cita keadilan sosial.

Islam dengan berbagai khasanah memiliki payung peraturan yang lengkap. Dalam roda birokrasi kebangsaan, Islam memiliki peranan penting dalam mengarahkan laju nahkoda suatu bangsa. Namun, pada faktnya di Indonesia, Islam belum mampu mengcover masalah-masalah yang terjadi. Terbukti kasus korupsi masih merajalela dalam sistem birokrasi negara. Pramono Anung selaku ketua The Global Organization of Parliamentarians Against Corruption (GOPAC) menyatakan bahwa Indonesia masih harus berjuang memberantas korupsi baik bersifat preventif maupun kuratif. Karena saat ini Indonesia menduduki peringkat ke-64 negara paling korup dari 117 negara di dunia.

Masalah di atas merupakan sesuatu yang sangat ironis, mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia adalah muslim. Kasus korupsi yang telah terjadi disebabkan oleh degradasi akhlak karena kurang kuatnya fondasi Islam dalam setiap individu. Langkah yang dapat diambil untuk menangani krisis akhlak adalah penguatan pendidikan karakter yang bersumber dari khasanah Islam. Akhlak dalam pandangan Islam adalah kepribadian. Komponen kepribadian itu ada tiga, yakni 1) Pengetahuan, 2) Sikap, 3) Perilaku (Abdul Majid, dkk: 2012, hal. 4). Dari ketiga komponen tersebut, jika antara pengetahuan, sikap, dan perilaku seseorang sama maka orang tersebut berkepribadian utuh, akan tetapi jika antara pengetahuan, sikap, dan perilaku seseorang berbeda maka orang tersebut berkepribadian pecah (Split Personality). Oleh karena itu, perlu suntikan nilai-nilai keislaman kepada aparat pemerintah tanpa menindas khasanah keyakinan yang lain. Demikianlah, vitalnya peran Islam dalam dimensi politik suatu bangsa.

Islam dan bangsa layaknya jiwa dan raga. Sebagaimana jiwa tidak bisa eksis tanpa raga dan raga akan percuma tanpa jiwa. Demikian pula Islam mengkritisi dan meluruskan bangsa sedangkan bangsa yang menyebarkan agama Islam. Jika pemahaman ini mampu ditanamkan dalam relasi keislaman dan kebangsaan, maka kemuskilan-kemuskilan dalam negara akan teratasi.

DAFTAR PUSTAKA

Atjeh, Aboebakar. 1957. Riwayat Hidup A. Wahid Hasjim: Djakarta.
Majid, Abdul, dkk. 2012. Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.

Oleh: Muhammad Nabila Kizbul Hirzul Jausan
Mahasiswa KPI semester 5 FDK UIN Sunan Kalijaga

You may also like...

1 Response

  1. anggi berkata:

    good 👌

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *