Menyusuri Kampung Wisata Kali Code

Keistimewaan yogyakarta tak lepas dari keragaman budaya, keuinikan arsitektur, kekhasan kuliner dan keramahan penduduknya. Yogyakarta menjadi magnet bagi para pelancong baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Keunikan yang dimiliki kota ini dari segi arsitektur dapat dijumpai di salah  satu kampung yang terletak di pinggiran Kali Code.

Untuk berkunjung ke Kali code kita dapat menggunakan Trans Jogja sebagai salah satu transportasi umum yang beroperasi di Yoyakarta. Kampung tersebut terletak di bawah jembatan Gondolayu, jika dari atas kita akan disuguhkan dengan nuansa perpaduan alam dengan corak atap rumah yang beraneka warna dan cukup menggelitik mata. Bak taman kanak-kanak. Ditambah dengan corak dinding kampung bernunsa artistik dengan lukisan beraneka ragam.

Kampung yang sudah ada sejak berpuluh tahun lamanya ini masih tetap eksis hingga kini, walaupun dahulu memiliki sejarah masa lalu yang cukup kelam. Jika ditelisik dari sisi sejarah ada yang menarik dari asal muasal kampung ini. Pendirinya merupakan keturunan Sultan Yogyakarya yang bernama Romo Mangun Wijaya, ia juga merupakan seniman di masanya.

Dahulu pemukiman ini pernah mendapat kecaman, dari pihak kesultanan. Penduduk yang bermukim segera disuruh angkat kaki. Karena tanah dipinggiran sungai diklaim merupakan tanah milik kesultanan. Romo Mangun sebagai pendiri perkampungan itu bahkan sempat mogok makan  pada sekitaran tahun 1988. Akibat tidak setujunya ia dalam keputusan akan penggususran kampung tersebut.

Akan tetapi, itulah tekat kuat yang dimiliki oleh Romo sebagai orang yang memperjuangkan rakyat miskin. Walaupun ia sendiri bagian dari keluarga sultan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di daerah kota Yogyakarta sampai sekarang. Dan pada akhirnya Romo berhasil memperjuangkan dan membela rakyatnya, dengan kesepakatan rakyat diperbolehkan menempati tanah di bantaran sungai kali code, tepatnya di bawah jembatan Gondolayu, dengan kesepakatan boleh menempati tetapi tidak memiliki hak milik sama sekali. Tidak heran jika perkampungan ini disebut sebagai kampung Romo Mangun Wijaya.

Keunikan Perkampungan di Bantaran Sungai Kali Code

Hebatnya, bangunan-bangunan di perkampungan tersebut tidak pernah runtuh meski berada tepat di pinggiran sungai. Rumah yang bersusun dengan aliran-aliran air kali di bawahnya tidak membuat kayu-kayu penyangga rumah rapuh. Walaupun hujan deras melanda, mengakibatkan air kali meluap. Karena air tersebut akan langung mengalir menuju sungai. Jika sore hari telah tiba beberapa remaja dan anak-anak akan turun ke sungai untuk menangkap ikan di dalam penangkaran yang mereka susun dengan ban-ban bekas.

Peduduknya pun bukanlah asli masyarakat Yogyakarta, banyak dari mereka datang dari luar kota Jogja bahkan luar dari pulau Jawa. Dan ternyata, masyarakat yang bermukim di perkampungan Romo Mangun banyak yang bermata pencaharian sebagai pengamen, pengemis, dan pelayan di salah satu toko bersar di samping perkampungan tersebut.

Kesenjangan ekonomi pun sangat terlihat jelas di sekitaran jembatan Gondolayu, karena kampung ini berada di tengah-tengah pusat kota Yogyakarta. Maka dari itu tidak heran jika banyak juga berdiri perumahan-perumahan elit di sekitaran kampung. Mereka yang berekonomi menengah bawah lebih memilih tinggal di bantaran sungai Kali Code.

Tidak ada biaya bagi siapapun yang ingin tinggal di perkampungan Romo Mangun itu, tetapi dengan konsekuensi apabila pihak pemerintahan Yogyakarta (Sultan) ingin mengambil lahan, maka mereka harus siap untuk angkat kaki dari tempat tersebut. Itulah konseskuensi yang harus mereka tanggung sebagai penghuni tanpa kepemilikan.

Reporter  : Siti Halida Fitriati

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *