Sedalam Nun

Hari ini aku harus menjadi penjaga, bagi seseorang yang bahkan dihari kelahirannya, kehilangan terlebih dahulu menjadi miliknya. Bagaimana tidak ? hanya ia yang kini ditakdirkan mengemban amanah sebagai khalifah fil ard, dibandingkan dengan adik serta peluh iIbunya.

Aku pandangi wajah Nun yang selalu teduh, tergambar garis-garis yang menyiratkan beban hidup yang telah ia lewati. Hujan macam apa yang telah mengguyur amarah membabi buta, hingga yang tersisa darinya adalah selalu senyuman yang menyenangkan. Terik yang mana yang telah membuat kepalanya selalu tegak, sedang putus harapan selalu bergitu dekat. Aku rasa, langkah kakinya pasti pernah gontai, tangisnya pasti pernah tidak mereda, amarah pasti pernah memuncak begitu hebat, hingga Ia bisa setenang ini. Menceritakan semuanya, duduk disampingku, menggenggam tanganku dengan erat. Semakin erat ketika kisahnya semakin menyesakkan bagian dadanya.

“Nun, mau kopi ?” kataku saat menghampirinya yang sedang duduk didepan teras, melihat Alan. seseorang yang kuceritakan diawal, Ia berusia 12 tahun, sedang senang sekali memelihara ikan.

“Tidak, terimkasih.” Jawabnya sambil melambaikan tangannya kepada Alan, yang sedang asyik dengan kolam barunya

“Nun, senja di Yogyakarta, kata orang selalu meninggalkan candu. Mau membuktikan dengan berdiskusi lagi ?”kataku kepada Nun Alamsyah, sambil ku lingkarkan tanganku dipinggangnya. Mendekapnya, mencium wangi dari bajunya yang selalu khas, dan aku suka itu.

“Sayang, hidup adalah tentang meninggalkan dan ditinggalkan.” Begitu ucapnya setelah beberapa detik membisu.

“Nun, kenapa suka sekali dengan kehilangan ? apakah kehilangan yang selama ini kau sembunyikan dariku ? bukan kejadian dua belas tahun yang lalu kan ?” kata itu tiba-tiba keluar dari mulutku. Selama ini, aku hanya bisa menahan diri, menikam hatiku untuk berhenti mecoba peduli dan tidak menanyakan apapun, selain memperlakukan semua seakan baik-baik saja.

“Tidak ada apa-apa Derisa, sudahlah.” Muka Nun berubah menjadi masam. Setelah dua belas tahun, baru kali ini aku melihatnya.

“Ada apa ? kenapa ayah berpura-pura semua baik-baik saja ? padahal setiap malam Derisa mendengar ayah menangis. Kenapa ayah selalu ingin dipanggil Nun, nama panggilan Ibu kepada Ayah? Mengapa ayah tidak membiarkan aku hidup seperti anak-anak yang lain ?” entah apa yang merasuki tubuhku, sore itu, semua yang aku rasakan mencapai titik zenit, puncak tertinggi setelah sekian lama menunggu.

Rindu Yang Berlarut-larut

Ayah menangis tersedu, seolah membuncahkan seluruh mendung dilangit harinya selama dua belas tahun. Tangisnya parau, hingga membuat suaranya hilang, larut dalam tubuhnya yang lunglai diatas ubin yang selalu dingin. Alan hanya diam, Ia sudah bukan anak-anak lagi, Ia sudah paham dengan segala sesuatunya.

Iya, Nun adalah ayahku. Ketika aku menjadi penjaga bari seseorang yang kehilangan, sebenarnya ada dua orang yang harus kujaga, ialah adikku dan juga ayahku. Dua belas tahun yang lalu, Ibuku yang juga istri dari ayah melahirkan Alan dan Alin. Persalinan berjalan normal, tekanan darah, kondisi Ibu juga baik, Alan dan Alin lahir dengan kondisi selamat. Wajah Ibu tersenyum dengan lebar, berkali-kali mengucap syukur kepada Allah akan karunia yang didapatkannya. Sayangnya setelah tiga jam bertahan, pendarahan mulai terjadi. Entah apa istilah medisnya, Aku dan Ayah tidak mengerti, yang pasti semua suster dan dokter kandungan berlarian, membawa Ibu keruangan lain. Belum sempat kakiku dan ayah mencapai ruangan itu, dokter sudah menutupkan kain kewajah Ibu. Wajah yang selalu tersenyum, wajah yang begitu cantik, wajah yang disanalah aku menemukan surgaku.

Aku dan ayah menangis berdua disudut ruangan, tanpa peduli lalu lalang. Tangan ayah menggapai kepalaku, menarik kepelukannya yang terasa begitu bergemuruh. Mungkin disana sedang ada batu hantam yang begitu kasar, membuat jantungnya ingin ikut berhenti, seperti kekasihnya yang telah berhenti menjalankan lakonnya dimuka bumi. Belum sempat ku sebut langit ku runtuh, pada huruf h, mulutku menganga. Alin, ikut dibawa oleh suster dengan alat bantu nafas ditubuh mungilnya. Begitu ingin aku mengutuk Tuhan, atas ketidak adilan hidup dan kekejamannya.

Kau tau, bagaiman aku tidak dapat mengucapkan apa-apa lagi, selain tangisku yang membuncah. Ayah bersujud dilantai. Dengan nafas tersenggal dan doa-doa yang yang diucapkan dengan nafas yang terpenggal serta tangis yang lesu. Aku tidak mengerti, dalam keadaan segenting itu, apa maksud sujud ayah. Apakah ucapan syukur, atau karena Ia tidak kuat menahan bongkahan takdir dari langit yang begitu durjana. Ia tak mampu menggapai langit, ia telah dirobohkan takdir dan ketetapan.  Untungnya, aku masih bisa berfikir baik saat itu, bahwa saat terdekat seorang hamba dengan Rabbnya, adalah ketika ia bersujud. Ia berbisik kepada bumi, namun suaranya melesat kelangit jauh.

“Ayahh….” kataku parau.

“Bersujudlah, Nak.. Kita ikut mengantarkan pertemuan Ibu dan Alin menemui Gusti Allah, Illah yang selalu Ibumu sebut dalam setiap sujudnya, Illah yang selama ini ia rindukan dan ingin ditemuinya. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un.”  Begitulah ayah mengikhlaskan segalanya. Mulai dari hari itu, ayah selalu berusaha tegar dihadapanku.

Dibalik Kesedihan

Selama dua belas tahun, begitu banyak cerita. Alan tumbuh menjadi anak yang cerdas dan penyayang. Ia telah didesign Sang Pencipta menjadi anak yang mudah mengerti segala kondisi. Sejak kecil entah bagaimana, Ia mengerti tentang ibu dan syurga. Bahkan Alan yang menguatkan aku dan ayah saat sedang goyah. Sejak SMP, aku menjadi kakak sekaligus ibu bagi Alan. Merawatnya, memeluknya, menyayanginya sepenuh hati. Sebab aku tau, Allah tidak pernah keliru memberi ketetapan.

Sayangnya, ayah tidak sebaik aku dan Alan. Selama dua belas tahun, ayah selalu berhalusinasi seakan Ibu ada disini. Ayah selalu berbicara sendiri dikamarnya, membeli berbagai pakaian serta parfum untuk Ibu, membuat teh yang diseduh dengan air panas, memanggil ibu saat kebingungan mencari sesuatu, kemudian menangis tersedu dikamarnya. Membiarkan rindu mencabik hatinya sendiri dengan kejam. Menjatuhkan segala doa dalam tangisan terdalam, yang tidak pernah diperlihatkan dihadapanku dan Alan.

Sampai suatu hari, Ia datang ke kamarku. Matanya sedikit basah, tatapannya kosong, seakan fikirannya melayang jauh diangkasa raya. “Nak.. Panggil aku Nun, sebagaimana Ibu memanggil. Aku ingin mendengarnya dari bibir yang sama dengan Ibu.” Begitulah ayah menjalani harinya dalam rindu, terlihat kuat dan tegar namun begitu rapuh didalam.

Setelah permintaan itu, aku selalu memanggilnya Nun, tanpa ayah. Memperlakukan Nun sebaik yang aku bisa. Namun, sore ini, tangisan Nun kembali lagi. Rindu sepertinya tengah menggorogoti hatinya yang pilu. Kepada Pemilik Rindu, bisakah Kau pinjamkan jalan yang lebih mudah ? aku ingin Nun-ku tidak menyerah. Sebab, sedalam Nun mencintai Ibu, sedalam itu pula aku mencintainya. Dialah Nun-ku.

Oleh : Ira Shafira Mastura, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *