Masjid Gedhe Mataram, Si Tua-Tua Keladi

  • 14
    Shares

Nuansa Akulturasi budaya seketika menyeruak saat memasuki kawasan Masjid Gede Mataram. Masjid yang terletak di jantung Kotagede tersebut menyajikan gaya arsitektur tradisional Jawa. Corak Hindu begitu kental terlihat di bangunan tempat ibadah kaum Muslimin.

Siapa sangka, masjid bergelar “Masjid Tertua di Yogyakarta” itu masih tetap eksis sampai sekarang. Berdiri sejak 1640 M tidak menjadikannya letih dalam melayani kaum Muslimin. Banyak kegiatan keagamaan yang masih terlaksana dengan baik. Seperti yang diungkapkan oleh Wahzari, Takmir Masjid saat dihubungi di kantor sekretariat masjid (29/10).

Kegiatan Keagamaan

“Kegiatan keagamaan masjid ini banyak, ada yang harian, mingguan, bulanan, tahunan, juga insidental.” Terang Wahzari.

Kegiatan harian meliputi sholat lima waktu. Jamaah yang hadir ikut sholat jamaah juga tergolong banyak. Maghrib menjadi waktu sholat yang paling banyak jamaahnya. Tidak kurang dari 150 jamaah mengisi 5-6 shaf masjid. Sementara jamaah paling sedikit biasanya sholat ashar dan dzuhur. Berkisar antara 3 sampai 3,5 shaf.

Jamaah yang sholat di masjid juga beragam. Bukan hanya dari warga sekitar, warga luar daerah juga ikut berjamaah. Seperti Wiyoro, Pringgolayan, Purbayan, sampai dari Jalan Wates.

Sementara untuk imam dan muadzin bergantian. Dalam lima kali pelaksanaan sholat wajib, terdapat lima imam dan lima muadzin.

Porsi kegiatan yang menunjukkan hidupnya masjid tercermin di kegiatan mingguan. Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap pekan.

Pertama, Kajian Kitab. Kajian kitab Aqidah setiap Ahad malam. Kitab arba’in nawawi setiap Senin malam. Tafsir Al-Quran setiap Rabu malam. Serta kajian hadis umum  setiap Jumat malam.

Kedua, Tahsin Al-Quran. Kegiatan ini dilaksanakan dua kali sepekan, yakni setiap Senin malam dan Kamis malam. Bisa diikuti seluruh usia, tua dan muda

Ketiga, Taman Pendidikan Al-Quran (TPA). Kegiatan ini khusus untuk anak-anak mengaji. Pelaksanaannya setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu setelah sholat Ashar.

Terkhusus sholat jum’at, Masjid Gede Mataram selalu dipenuhi dengan jamaah. Bahkan dua pendopo samping kanan dan kiri juga digunakan. Padahal bagian dalam dan selasar masjid sudah cukup luas.

“Terkadang malah tidak cukup, jadi depan pintu gapura itu akan di gelari tikar”, ucap Wahzari.

Kegiatan bulanan dan insidental lebih banyak dilaksanakan oleh pihak luar. Masjid Gede Mataram setiap bulannya digunakan untuk kegiatan pengajian guru SD. Jamaah yang hadir rata-rata 400, yang semuanya adalah guru-guru SD di beberapa daerah di Jogja. Selain itu, kepala sekolah SD se-Jogja juga sering mengadakan pengajian. Jumlah jamaah berkisar 190.

Kegiatan insidental dilaksanakan pihak luar dan hanya di momen tertentu. Tercatat nama Ustadz Bahtiar Natsir, Aa Gym, Ust Anan, Iip Wijayanto, Felix Siauw pernah mengisi kajian di Masjid Gede Mataram.

Kegiatan tahunan di Masjid Gede Kauman tergolong minim. Itu disebabkan karena perayaan Idhul Fitri dan Idhul Adha tidak dilakukan di kompleks masjid. Warga lebih memilih lapangan untuk melaksanakan sholat Id. Sementara masjid digunakan oleh pihak keraton untuk merayakan Idhul Fitri maupun Idul Adha.

Kepengurusan: Demokrasi ala Masjid

Eksistensi Masjid Gede Mataram ternyata tidak hanya tercermin dari banyaknya kegiatan keagamaan. Ketua Takmir masjid, Kamaruddin Noor mengatakan bahwa kepengurusan juga berperan besar.

“Pemilihan ketua takmir dan jajaran kepengurusan diawali dengan pemilihan langsung. Tetapi itu untuk memilih tim formatur”. Ujar Kamaruddin Noor (11/11)

Awalnya masyarakat menuliskan 5 sampai 7 orang dalam sebuah kertas. Setelah dihitung maka akan didapatkan 11 nama dengan suara terbanyak. 11 orang tersebut sebagai Tim Formatur dan bermusyawarah menentukan ketua beserta jajaran pengurus takmir.

Pemilihan secara langsung bisa dibilang baru. “Pergantian pengurus yang dulu langsung ditunjuk oleh pengurus sebelumnya, jadi semacam resufle.” Terang salah satu Pengurus Cabang Muhammadiyah tersebut.

Pemilihan umum pertama dilaksanakan awal tahun 2016. Periode kepengurusan selama 3 tahun. Hal tersebut untuk menghindari kejenuhan, baik dari pengurus maupun yang diurus (baca: jamaah). Kamaruddin menambahkan, pada Desember 2018 akan diadakan pemilihan umum untuk periode selanjutnya. Pengurus yang sudah menjabat di periode sekarang bisa dipilih menjadi pengurus lagi di kepengurusan selanjutnya.

Di Tengah Himpitan Sumber Dana

Melihat padatnya kegiatan yang ada di Masjid Gede Mataram, tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Meskipun masjid ini adalah milik keraton, tetapi nyatanya kurang ada perhatian yang serius dari keraton. Wahzari mengungkapkan bahwa mulai dua tahun terakhir sudah tidak ada bantuan dana dari keraton. Hal itu karena penanggung jawab mengurusi masjid sudah meninggal.

Hal senada juga diungkapkan oleh Warisman, Pemegang Kas Masjid Gede Mataram (4/11). Tetapi, berhentinya suntikan  dana tidak lantas membuat kegiatan masjid terganggu atau bahkan mandeg. Ia menjelaskan bahwa sumber dana utama berasal dari infak jamaah. Infak tersebut meliputi infak harian, infak hari Jumat, dan infak kerja sama pengajian.

“Berjalannya kegiatan di masjid ini ditopang oleh infak dari jamaah. Terkadang juga ada infak dari kerja sama kegiatan”. Ungkap Warisman.

Meskipun terlihat terlalu minim sumber dana, tetapi ternyata perputaran uang cukup baik. Laporan keuangan bulan Agustus 2018 menunjukkan hal tersebut. Tercatat total saldo dan pemasukan sebesar 205.851.698 dengan pengeluaran 40.329.600.

Meskipun termasuk masjid tertua di Yogyakarta, bahkan di Indonesia, Masjid Gede Mataram masih tetap bisa eksis. Kegiatan keagamaan masih bisa dijalankan dengan baik dan terstruktur. (Han)

Penulis : Iwan Hantoro, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *