Keberhasilan Genre Musik Dangdut di Pasar Musik Indonesia

  • 2
    Shares

Hari musik nasional ditetapkan pada tanggal 9 Maret. Perayaan ini memang hanya berlaku untuk Indonesia saja. Selain itu ada peringatan Hari Musik Internasional yang jatuh pada 21 Juni.

Peringatan Hari Musik nasional bertujuan untuk menghargai para musisi sekaligus musik Tanah Air. Tanggal 9 Maret dipilih karena bertepatan dengan tanggal lahir sang maestro sekaligus pencipta lagu Kebangsaan Indonesia Raya, WR. Soepartman.

Peringatinya Hari Musik Nasional yang dilaksanakan setiap tahun. harapannya masyarakat Indonesia bisa lebih menyukai dan mendukung karya-karya musisi lokal. Termasuk warisan-warisan musik khas daerah.

Musik dan Kehidupan Manusia

Dalam survei yang dilakukan Ypulse.com terhadap 1.000 konsumen usia 13-32 tahun. Menunjukkan data bahwa hampir 76 persen mengatakan mereka mendengarkan musik beberapa kali sehari. Sedangkan 80 persen dari mereka mengatakan musik adalah bagian penting dalam hidup mereka. Sementara 70 persen dari mereka mengatakan tidak bisa berhenti mendengarkan musik selama satu minggu.

Sebanyak 60 persen dari mereka juga dilaporkan mendengarkan musik setiap hari. 84 persen mengatakan mereka hanya mendengarkan salah satu genre yang spesifik. Dan 82 persen dari mereka mengatakan tidak hanya mendengarkan satu genre.

Jenis Musik Yang Dicintai Publik Indonesia

Kita pasti sudah sangat hapal dengan lagu project pop dangdut is the music of my country bukan? Benarkah lagu itu? Skala Survei Indonesia (SSI) pernah melakukan riset tentang jenis musik yang paling disukai publik Indonesia. Hasilnya, dangdut merupakan jenis musik yang menjadi idola semua kalangan masyarakat Indonesia.

Sebanyak 58.1% publik kita memang suka dangdut. Seperti gambar di atas, urutan jenis musik yang paling disukai public Indonesia adalah dangdut 58.1%, Pop 31.3%, Lagu daerah 3.9%, keroncong, 2.6%, Kasidah, 1.2% dan jazz 0.4%.

Pecinta Musik Dangdut Berdasarkan Pendidikan

“Selera musik tidak berhubungan dengan kelas sosial. Tetapi kelas sosial menentukan apa yang disukai dan tidak disukai oleh manusia,” ujar Gerry Veenstra, ilmuwan dari  University of British Columbia, Kanada.

Dalam studinya Veenstra menggelar survei melalui telepon yang menjangkau hampir 1.600 responden di Vancouver dan Toronto. Mereka ditanyai tentang genre musik yang disukai dan yang tak disukai. Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang miskin dan kurang terpelajar lebih menyukai jenis musik country, disko, easy listening, lagu lawas, heavy metal, dan rap. Sementara kelompok yang lebih kaya dan berpendidikan tinggi cenderung menyukai musik klasik, jazz, opera, reggae, rok, dan musik teater.

Lalu bagaimana dengan musik dangdut? Ada yang bilang, dangdut hanya disukai oleh kalangan berpendidikan rendah. Benarkah? Pernyataan tersebut memang ada benarnya. Merujuk hasil survey Skala Survei Indonesia seperti tertuang pada gambar di atas, dari 100% publik yang berpendidikan SD/tdk tamat SD, 67.3% diantaranya memang pecinta music dangdut.

Meski demikian, kalangan terpelajar juga tidak sedikit yang mencintai music dangdut. Hal ini bisa dilihat dari kecintaan music para lulusan perguruan tinggi. Dari 100% publik yang berpendidikan sarjana (S-1, S-2, dan S-3), 28.1% diantaranya adalah pecinta musik dangdut.

Gambar diatas menunjukkan Dan inilah urutan pecinta dangdut berdasarkan pendidikan, antara lain; Belum/tamat SD 67.3%, Tamat SMP 62.8%, Tamat SMA 45.8%, Perguruan Tinggi (masih kuliah, tamat D1-D4/S1) 28.1%.

Fakta ini menunjukkan bahwa memang semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin berkurang kesukaannya terhadap dangdut.  Meski demikian, tak sedikit pula yang pendidikannya tinggi suka jenis musik ini.

Studi yang dilakukan Veenstra ini menunjukkan bahwa kekayaan dan tingkat pendidikan tidak memengaruhi selera musik seseorang. Tetapi kelas sosial dan faktor lain seperti usia, jenis kelamin, status imigran, dan etnis yang menentukan selera musik manusia dalam cara yang lebih kompleks.

Apa yang tak ingin didengarkan, juga memengaruhi batas-batas kelas sosial. “Apa yang disukai oleh masyarakat kelas atas, tidak disukai oleh masyarakat kelas bawah. Demikian juga sebaliknya,” jelas Veenstra.

Reporter :Mohmad Hasan As’adi

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *