Sutirman Eka Ardhana

  • 12
    Shares

Drs. Sutirman Eka Ardhana, lahir di Bengkalis, 27 September 1952. Ia menetap di Yogyakarta sejak tahun 1972 kemudian menikah dengan perempuan Yogyakarta pada tahun 1979. Dosen Fakultas Dakwah Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam sejak tahun ajaran 2004/2005 ini kerapa disapa oleh mahasiswanya dengan sebutan akrab Pak Tirman. Selain menjabat sebagai dosen, Ia juga seorang wartawan dan pekerja pers sejak tahun 1974, juga menjadi pemimpin redaksi di beberapa media. Menariknya lagi, disela kesibukannya dalam dunia pers dan menjadi dosen, Pak Tirman juga seorang sastrawan yang telah melahirkan banyak buku-buku, baik fiksi seperti cerpen, puisi, novel dan juga buku non-fiksi.

Di antara buku sastranya, yaitu berjudul “Risau”, “Emas Kawin”, “Malioboro 2057” (kumpulan puisi), “Barter Pacar”, “Terbanting”, “Sinar Harapan”, “Surau Tercinta”, “Dendang Penari”, “Sang Pramuria”, “Gelisah Cinta”, “Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur” (Novel), juga buku-buku non-fiksi di antaranya: “Megawati di Panggung Kemelut PDI”, Jurnalistik Dakwah, dan masih banyak karya-karya lainnya.

Di usianya saat ini Ia masih terus produktif berkarya dan semangat dalam mengajar mahasiswa KPI di UIN Sunan Kalijaga. Bahkan Ia juga mengatakan, bahwa saat ini sedang proses penyelesaian menulis tiga buku kumpulan puisi, dua novel, dan satu buku tentang pers yang disiapkan untuk terbit tahun depan. Menurutnya, pekerjaannya sebagai dosen, penyair, penulis, wartawan, semuanya mengasyikkan, karena semuanya berhubungan dengan aktivitas kepenulisan dan berkaitan dengan kerja yang berinteraksi dengan banyak orang. (Lm)

“Sampai dewasa ini, sastra di Indonesia masih tetap punya tempat, publik, dan pasar. Terlebih sastra yang mampu mengikuti dan memahami warna, gaya, dan perilaku pembaca saat ini. Sastra dewasa ini yang dibutuhkan adalah sastra yang mampu bicara dan bergaya kekinian”, begitu tanggapan beliau mengenai urgensi sastra di Indonesia dewasa ini yang menjadikan masih terus produktif menggeluti dunia sastra.

Penulis: Lu’luil Maknun

You may also like...

1 Response

  1. Sutirman Eka Ardhana berkata:

    Wuih, terima kasih. Saya sungguh tersanjung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *