ROMANTISNYA KOTAGEDE

Kota gede memuat beragam sejarah termasuk dalam hal kisah romantis

Langit mendung hampir gerimis saat saya dan beberapa orang dalam kelompok kecil menyusuri Kotagede. Sebuah kota yang kental dengan iklim Jawa dan tradisi masa lalu. Tak hanya dalam lingkungan Kerajaan Mataram namun juga hampir di seluruh jalanan dan pelosok kotanya. Seperti wilayah selatan Kotagede yang sedang saya susuri ini, daerah sekitar Kampung Dalem dan alun-alun, suasana magis dan sacral masih terlihat pekat.

Dalam perjalanan, saya berjumpa dengan tembok benteng tebal, pohon beringin tua, bangunan joglo yang berusia ratusan tahun dan satu benteng satu benteng jebolan Raden Rangga. Benteng ini merupakan bagian tembok Cepuri, sisi utara yang secara fisik terbuka sebesar ukura manusia. Tak disangka ternyata menurut sejarah, benteng ini dahulu kala merupakan ulah Raden Rangga yang ingin mengalahkan kesaktian ayahnya namun gagal. Raden Rangga yang merasa malu atas kegagalannya, kemudia berniat kabur dari Keraton dengan membenturkan dirinya ke benteng keraton. Maka dari itu benteng tersebut dijuluki Benteng Jebolan Raden Rangga. Selanjutnya kami berjalan kembali menyusuri sepanjang jalan arah selatan masjid.

Sepanjang jalan itu terdapat deretan rumah dan di antara deretan itu terdapat gang-ganag kecil yang menghubungkan antara rumah satu dan lainnya. Satu hal yang tidak bisa dilewatkan di antara banyak gang disana yaitu Nampak satu  gang itu bukan hanya gang biasa melainkan terdapat dua gerbang kecil yang menutup gang bagian depan dan belakang dan terdapat pemukiman kecil di dalamnya biasanya disebut dengan Between Two Gates (Di Antara Dua Gerbang). Gerbang ini merupakan salah satu spot foto yang banyak diburu oleh para wisatawan.

Semakin berjalan kearah selatan kami menemui tempat yang kami ketahui adalah tempat berharga bagi warga Keraton mataram saat dulu, Kampung Kedhaton. Meski kampung itu saat ini sudah tidak terlihat seperti bangunan keraton karena sangat padat oleh pemukiman warga. Namun ada salah satu bangunan yang masih menampakkan wujud aslinya yaitu watu gilang.

Menurut sejarah batu ini merupakan tempat singgasana raja Panembahan Senapati. Batu itu terdapat di bawah pohon beringin tua dan didalam bangunan kecil seperti pos yang amat dijaga keamanannya. Dan tidak boleh sembarang orang yang bisa masuk kedalamnya. Sebelah barat watu itu terdapat tembok putih setinggi 1.5 meter yang didalamnya mengelilingi makam-makan keluarga Keraton lainnya.

Rasanya belum puas berjalan-jalan mengitari sudut bersejarah Kotagede jika belum berkunjung ke pusat perekonomian kota. Selain padat oleh para wisatawan di sana juga kita bisa langsung berinteraksi dengan penduduk asli yang tengah melakukan berbagai aktivitas  untuk memenuhi kebutuhannya.

Sebut saja itu pasar Legi, pasar ini berada di sebelah utara masjid Mataram. Tidak jauh dari masjid maka bisa langsung masuk di kawasan pasar. Pasar ini terlihat begitu tradisional, dari mulai ornament-ornamen pasar yang terdapat beberapa ukiran pahatan dan juga makanan-makanan yang dijajakan di sana masih banyak makanan tradisional yang menjadi khas Kotagede. Misalnya jajanan kipa, yangko, lemper, kue waru, dan lainnya dan tentunya juga terjangkau dompet.

Pasar Legi ini merupakan pusat perdagangan di Kotagede, tempatnya sangat terawat dan rapi beralaskan keramik gelap. Aroma bau bunga-bunga dan rempah-rempah khas keraton yang menyambut para wisatawan saat memasuki pintu pasar mtelah berahasil membawa para wisatawan pada suasana kebudayaan tradisonal Jawa. Tak hanya itu banyak sekali kuliner yang bisa kita jumpai di sekitar wilayah kotgede. Diantaranya wedhang ronde, sate karang, emping Kotagede, es sidosemi, bakso Kotagede, Coklat Monggo, Coklat Java, dan banyak lagi.

Sebagai seorang wisatawan atau anak rantau yang berada di Yogyakarta rasanya belum lengkap jika belum mengunjungi kota peninggalan Kerajaan Mataram ini dan menikmati berbagai romantisme yang disajikan di setiap sudut kota bersejarah ini. jika berkunjung ke Kotagede tak puas hanya mengunjungi satu dua tempat saja karena ketika memasuki wilayahnya suasana sejarah terasa kental dan itu bisa kita temui di sepanjang jalan yang ada di Kotagede. Dengan hanya cukup berjalan kaki saja bisa memenuhi waktu piknik juga banyak ilmu pengetahuan yang bisa diambil dari setiap sudut kota perak ini.

Setelah menyusuri sebagian besar wilayah Kotagede, say dan kelompok kecil kami terpaksa harus pulang karena hari menjelang sore. Terasa berat meninggalkan seluruh kenangan dan ilmu pengetahuan yang didapat selama perjalanan di kotagede. Merasa tak pantas menyembunyikan keunikan kota ini, saya bertekad untuk kembali menyusuri jejak sejarah dan romantisnya Kota ini. tulisan ini menjadi saksi perjalanan saya, bahwa terdapat sebuah kota terpencil di Yogyakarta tang tak kalah istimewa dari jalan Malioboro.

Penulis/reporter : Ulfah Sholihat, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *