Supersemar, 53 Tahun Kian Samar

Supersemar Kini genap berusia 53 tahun, sejak kelahirannya 11 maret 1966 lalu.

Dalam artikel berjudul “Arsip Supersemar1966″ yang diterbitkan Kompas 10 Maret 2015, ditulis:
Surat Perintah Sebelas Maret alias Supersemar adalah surat perintah yang ditandatangani Presiden Soekarno pada 11 Maret 1966. Isinya berupa instruksi Presiden Soekarno kepada Letjen Soeharto, selaku Menteri Panglima Angkatan Darat, untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk mengawal jalannya pemerintahan pada saat itu.

Kini Surat Perintah Sebelas Maret telah berubah kian kompleks di usianya yang ke 53 tahun itu, paling tidak Menurut catatan di Arsip Nasional, telah ada empat versi Supersemar, yaitu versi dari Pusat Penerangan (Puspen) TNI AD, versi dari Akademi Kebangsaan, dan dua versi dari Sekretariat Negara (Setneg)” surat berisi perintah yang menginstruksikan Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) Soeharto untuk mengambil tindakan keamanan negara.

melihat begitu banyak versi Supersemar yang beredar di masyarakat, membuat Supersemar kian samar, baik segi keotentikan-nya, segi fungsi, tujuan, dan cerita sebenarnya di balik Supersemar itu sendiri ?
Hingga usianya yang 53 tahun di 11 Maret 2019 ini, tak ada kejelasan. Supersemar tetap hilang.

Menurut penulis buku “Misteri Supersemar” Eros Djarot, Supersemar menjelma meniadi sebuah ruang gelap yang sampai saat ini tetap dipertahankan sebagai misteri politik tingkat tinggi. Dan, di ruang ge|ap itulah seluruh warga dibiarkan buta sambil terus menerka-nerka dengan berbagai teori konspirasi.

Mengapa kita perlu mempertanyakan kejelasan Supersemar ini ?

ketiadaan naskah asli Supersemar membuat banyak pihak masih mempertanyakan apa mandat yang sebenarnya diberikan Presiden Soekarno terhadap Jenderal Soeharto saat itu. Dalam pidato kenegaraannya pada tanggal 17 Agustus 1966 yang berjudul: “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (JAS MERAH)”, Presiden Soekarno menyampaikan demikian:

Surat perintah sebelas Maret itu mula-mula dan sejurus waktu, membuat mereka bertampik-sorai kesenangan, dikiranya S.P. sebelas Maret itu adalah suatu penyerahan pemerintahan, dikiranya S.P. sebelas Maret itu suatu transfer of sovereignity suatu transfer of authorithy, padahal tidak! S.P. sebelas Maret itu adalah suatu perintah pengamanan, perintah pengamanan jalannya pemerintahan, demikian kataku pada waktu melantik kabinet, kecuali itu perintah pengamanan keselamatan pribadi presiden, perintah pengamanan wibawa presiden, perintah pengamanan ajaran presiden!

Dalam pidato tersebut nampak jelas bahwa Supersemar diterbitkan bukan sebagai suatu penyerahan kekuasaan, tetapi justru diterbitkan sebagai surat perintah pengamanan terhadap jalannya pemerintahan Presiden Soekarno saat itu. Supersemar tidak lebih sebagai surat perintah presiden kepada panglima angkatan bersenjatanya untuk mengamankan dan menertibkan kondisi negara.

Sejarawan Harold Crouch dalam bukunya Militer dan Politik di Indonesia mencatat jika Supersemar dijadikan sebagai alat bagi Soeharto dan militer untuk merebut kursi kepresidenan dari tangan Presiden Soekarno. Dengan Supersemar itulah Soeharto juga kemudian membubarkan PKI sekaligus menyingkirkan seluruh kekuatan politik yang berafiliasi pada Soekarno.(Qureta : Miftahul Habib Fachrozy)

Penulis : Yosi Hermanto

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *