Gerbera

  • 6
    Shares

Gerbera
Oleh : Yosy Hermanto

Sejak aku kecil aku telah melihat orang sakit di tiap sudut desa. Tetanggaku yang tinggal tepat di samping kanan rumahku baru saja didiagnosa menderita bronkitis akut. Tiap minggu dua sampai empat orang didiagnosa menderita asma. Bayi – bayi baru lahir, anak remaja, dan dewasa tak ada yang selamat dari berbagai macam penyakit pernapasan. Penyakit yang menyerang seantero desa membuat kami memandang Kematian dan acara pemakaman adalah teman akrab paling setia yang selalu menyertai kami tiap saat.

Barulah beberapa hari lalu aku tahu melalui secarik koran tua bekas bungkus nasi sarapan pagi bahwa, penyakit yang menyerang alat pernapasan di desaku pertama kali terjadi dua puluh tahun yang lalu. Menurut informasi yang diberitakan oleh seorang narasumber di koran itu desaku adalah desa terakhir yang tersisa, paling tidak untuk sepuluh tahun mendatang.

Di usiaku yang kesepuluh ini, aku tumbuh tanpa pernah tahu siapa ibuku dan siapa ayahku, aku telah yatim dan piatu sejak kecil, paling tidak itu yang dikatakan nenek yang merwatku, aku tak pernah diizinkan keluar rumah, bahkan aku tak pernah tahu bagiamana rasanya udara di luar sana, tiap pagi nenek memandikanku lalu meyiapkan sarapan untukku, sore haripun begitu, mandi dan makan neneklah yang menyediakannya untukku, aku sangat berbeda dengan anak – anak yatim dan piatu lainya yang ada di desaku,mereka tumbuh dan besar oleh bantuan warga sekitar yang dengan besar hati mau bergotong royong untuk kehidupan anak – anak itu, persediaan makanan, pakaian, serta untuk tempat istirahat atau tidur, anak – anak yatim dan piatu itu dipersilahkan untuk menempati rumah yang telah ditinggal mati oleh seluruh pemiliknya. Persamaannya kami tak boleh sekalipun meninggalkan rumah. Kami hidup dalan kurungan sampai kematian menjemput, atau sampai ada orang dari desa lain yang mungkin masih tersisa bersedia untuk mengadopsi kami untuk di kurung di rumah si pengadopsi.

Tetapi, jujur saja aku tidak pernah mau di adopsi siapapun, aku menyayangi nenek, ia yang merawat dan membesarkan aku, nenek hidup untukku maka aku ingin hidup untuk nenek.

“Kau tidak merasa kesepian Gerbera ?”

Nenek menghampiriku sembari membawa segelas air bening.

Aku memandangi wajah nenek yang pucat, pastilah berkerja sembari menggendong bronkitis yang bersarang di tubuhnya itu sangat menyiksa nenek.

“Sepuluh tahun sudah kau menghidupi aku Gerbera, siang dan malam kau bantu aku menjalani kehidupan, tetapi malam ini aku sudah tak kuat lagi, sudah saatnya kau kuberikan kepada orang lain yang masih cukup sehat untuk merawatmu, tentunya untuk merawat kehidupan orang itu pula” ujar nenek lagi.

Aku kaget bukan kepalang mendengar perkataan nenek. Seperti baru saja dihantam dentuman petir keras nenjelang hujan deras yang akan menyerang bumi.

“Tidak nek aku tidak mau, aku mau hidup bersama nenek” jawabku keras.

Tetapi nenek seolah mendadak tuli, Ia tak menggubris perkataanku, ia menyuapi air bening yang ia bawa kemulutku, mau tak mau aku menelan air bening itu.

Nenek bangkit lalu tergepoh – gepoh berjalan menuju dapur, aku menatap pundak nenek, dari dapur aku mendengar bunyi kucuran air yang dituang ke dalam gelas. “Aku tidak mau nek, aku tidak mau jika aku diadopsi orang lain, aku hanya ingin membersamai nenek, neneklah yang telah merawat aku sejak aku kecil, atau sejak ayah dan ibuku pergi untuk selamanya” teriakku pada nenek yang masih khusyuk menuang air ke dalam gelas, aku tak mendengar nenek akan menjawab, sesaat kemudian suara kucuran air itu berhenti, nenek kembali ke ruang tamu, ia membawa segelas berisi air bening penuh.

“Air sangat sukar ditemukan belakangan ini, hujan tak pernah turun lagi, orang – orang selain kesulitan bernapas, juga kehausan, kau tahu Gerbera ?” nenek berkata lagi sambil terus berjalan menuju kearahku.

“Nenek aku tahu, sudah tidak pernah turun hujan sejak aku kecil, aku tahu berbagai macam penyakit pernapasan menyerang warga desa, ayah dan ibuku mati mungkin karena penyakit pernapasan menyerang mereka juga” teriakku lagi pada nenek. Tetapi ekspresi yang sama kembali aku temui pada wajah nenek, ia seolah tuli dan tak dapat mendengar apa yang aku katakan kepadanya.

Nenek mendekati tubuhku, membelai wajah dan tanganku, “sungguh kau tumbuh dengan subur cucuku, andai saja bangsa kami tidak bertindak kejam pada bangsamu,”

Aku terkejut lagi, kali ini lebih dari sebelumnya. Rasanya tubuhku mati rasa, apa maksud nenek bahwa “bangsa nenek” telah bertindak kejam pada bangsaku ? Ah mungkin nenek mendengarku sejak tadi, dan ia sedang mengolah kata untuk membuatku membenci nenek dan Aku memilih untuk diadopsi orang lain, aku coba untuk menyela nenek, tetapi sesuatu di tenggorokanku berusaha menahan kata – kata untuk keluar.

“tentulah kami tak akan menerima akibat buruk seperti saat ini, orang – orang mulai mati sejak bangsamu kami bantai habis, kami hanya mau yang enak dipandang mata saja, dan inilah akibatnya, kemarau panjang, panas dan berdebu, penyakit setan menyerang pernapasan, kami hidup hanya untuk saling menguburkan siapa yang mati lebih dulu” tambah nenek.

Aku semakin kaku, nenek kembali menyuapi air bening dari dalam gelas yang ia bawa ke dalam mulutku, anehnya air itu masuk dengan lancar melewati tenggorokanku, tetapi tetap saja aku tak mampu lagi utuk berbicara, aku ingin sekali bilang pada nenek bahwa aku tak mau diadopsi orang lain apapun alasannya, bahkan jikalau benar bahwa bangsa neneklah yang telah membantai bangsaku.

“Gerbera, kau adalah tanaman terakhir di desa ini, tadi pagi seluruh tanaman sudah purna punah, tak ada lagi yang tersisa, seluruh tanaman seusiamu mendadak mati seminggu lalu, hujan tak pernah turun, semua warga desa butuh air, tanaman mereka juga butuh, saat ini aku sudah tak kuat lagi, maka sudah saatnya kita berpisah” tambah nenek, aku membatu, sesaat kemudian nenek terjatuh ke lantai, kemudian menjadi kaku.

Didedikasikan untuk : Hari Hutan Internasional 21 Maret

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *