Segelas Es Teh Naila

Segelas Es Teh Naila

Oleh : Herman Yosy

Ku sedot es teh dari dalam gelas di hadapanku, setengah geram  kugigit pipa plastik kecil berwarna hitam yang kunamai selang surga itu, terus menyedot sampai batu es pendingin tidak lagi mengambang. Jogja sedang diserbu kemarau panjang, sementara hujan di bulan November beberapa hari ini menyamar  Paslon saat kampanye, berjanji, dan berhenti di situ.

 

“Kau akan mati kalau terlalu banyak minum es teh dan menggigit pipa plastik itu”

Komentar Naila yang sedari tadi duduk di seberang meja tepat di hadapanku, Ia menggeser kursinya empat sentimeter ke arah depan kemudian, Naila sedikit membungkuk menjatuhkan wajahnya di depan mukaku.

 

“Kau akan mati, sebab suhu tubumu tak seimbang”

 

Tambah Naila lagi.

Aku terkekeh. Rasanya kok malas sekali menggubris Naila, biar dia tahu rasa, tidak digubris itu bagaimana perihnya.

Naila membanting tubuhnya kembali kepada kursinya, membuang nafas kesal, melihat ke kiri dan kanan, lalu membungkuk meraih sebatang rokok, mengambil korek, menyulut rokoknya. Mulut dan hidung Naila sekarang menyemburkan asap seperti lubang asap.

 

“Kau tahu, kau juga akan mati dengan sebatang rokokmu”

 

“Ya aku tahu, aku akan mati”

 

Naila sergap menjawab perkataanku.

 

“Lalu, untuk apa memikirkan kematian, oleh segelas es teh atau sebatang rokok, sama saja, semua orang akan mati”

 

Tambahku. Aku meraih gelas es tehku lagi, sementara Naila menyedot rokoknya lebih dalam.

Tiga belas tahun kemudian

 

Aku dan Naila kembali satu meja, ruang yang sama namun, waktu yang berbeda ini tiga belas tahun setelah pertemuan terakhir kami. Mengingat kami bukan penganut kepercayaan akan kebetulan, pertemuan ini  kami rayakan dengan hanya saling melempar tawa kemudian, memutuskan duduk satu meja, lagi.

 

“Kenapa kita saling tertawa ?”

 

Tanya Naila. Tatapannya seolah mengatakan “Setelah tiga belas tahun tidak bertemu” tetapi, ia tidak menguntungkan kalimat itu.

Aku diam sebentar, tak tahu menahu kenapa kami saling tertawa.

 

“Ah, mungkin aku tertawa sebab kau tidak mati karena sebatang rokokmu”

Ku putuskan bilang begitu padanya.

 

“Dan kau tidak mati karena segelas es teh saat kemarau November tiga belas tahun lalu”

 

Naila menimpali.

 

“Aku traktir kau segelas es teh”

 

Tawar Naila.

 

“Akan kubakarkan sebatang rokok untukmu”

 

Tawarku, pula.

Ia mengangguk setuju.

 

“Aku tengah mengidam – idamkan suatu sore denganmu, matahari di ufuk barat yang jingga serta kamu yang cerewet minta dipotret”

 

Aku mulai menyedot sekaligus menggigit geram pipa surga hitam yang menghubungkan aku dengan teh di dalam gelas, sampai batu es tak mengambang lagi. Persisi tiga belas tahun lalu.

 

“Tapi, sore itu masih jauh. Kita hidup saat ini, hanya saat ini, siapa tahu satu detik atau tengah atau setelah kau menulis kisah soal kita, aku dan kau menjadi tiada”

 

Aku mangut-mangut seolah mengerti serupa bocah kecil yang kumal setelah Purna dinasihati soal “jangan main kotor”

 

Naila mantapku, aku menatap Naila,  kami saling tatap, bola mataku malu dan ingin sembunyi tetapi keburu dipeluk bola mata Naila lalu, bola mata Naila bicara,

 

“kau potret ini saja”

 

menyerahkan segelas Es teh.

 

“Ini ufuk barat dalam cangkir, kau harus selesai soal matahari di ufuk barat, kita hanya hidup saat ini”

Jadilah, pikirku, kemudian aku yang memotret, bahkan dia tidak minta dan tentu tidak cerewet ada gambar siluet tubuhnya di dalam gelas itu.

 

“Bagaimana kalau aku mati karena es tehmu ini Nai ?”

Tanyaku sembari meletakkan gawai pada samping es teh di atas meja.

“Kalau kau mati, berarti aku tidak akan menikah”

Ujarnya.

“Kalau aku tidak mati ? Kau akan menikah ?”

“Tidak juga, mungkin kita akan saling tertawa sebab kita akan bertemu lagi di tempat yang sama tanpa janji, dan tentunya tiga belas tahun lagi”

“Apa hubungannya ?”

Naila pergi, tinggal aku dan segelas es teh yang ia beli, ia membawa serta rokok sebatang yang aku sediakan.

 

Seminggu setelahnya, aku dengar kabar dari seorang teman kalau Naila ternyata mati sebab terpeleset di dapur saat tengah menyeduh teh. sungguh di sayangkan. Aku belum bilang padanya kalau dia mati apakah aku akan menikah atau tidak. Lalu, setelah tiga belas tahun aku dan Naila masih akan saling tertawa ketika kami bertemu di ruang yang sama.

Ku pikir cara dia mati tidak begitu keren, seperti nyamuk sial yang menggigit orang khusuk main game, di tampol sampai badan nyamuk itu remuk, atau seperti kodok yang keselak jangkrik di tengah sawah. Ternyata pertemuan dan perpisahan hanya serupa itu. Aku diam di kamar, tak ada sesiapapun, semua barang telahku lempar keluar melalui jendela, hanya ada aku, dan Segelas es teh dari Naila. Apakah aku akan mati dengan sepuntung rokok ? Sebab ternyata Naila mati karena segelas teh, entahlah, aku mau menggigit pipa surga ini, lalu menaruh sebatang rokok menyala pada bagian ujungnya, mungkin ketika tengah menghisap rokok atau setelahnya aku akan mati. Entahlah, kuputuskan untuk tidak peduli apa – apa, kematian tak pernah bisa di duga, baiknya mungkin kita tak perlu terlalu cemas padanya.

– Yogyakarta 2018

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *